RSS
Facebook
Twitter

Thursday, 5 January 2012

Inflamasi

A. Pengertian
Inflamasi dan Kanker: Hot Relationship        Inflamasi merupakan respons protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan, mengurangi, atau mengurung (sekuestrasi) baik agen pencedera maupun jaringan yang cedera itu (Dorland, 2002).
Inflamasi merupakan respon terhadap cedera. Arti khususnya, inflamasi adalah reaksi vascular yang hasilnya merupakan pengiriman cairan, zat-zat yang terlarut dan sel-sel dari sirklasi darah ke jaringan interstitial pada daerah cedera atau nekrosis. Inflamasi sebenarnya adalah gejala yang menguntungkan dan pertahanan, hasilnya adalah netralisasi dan pembuangan agen-agen penyerang, penghancur jaringan nekrosis, dan pembentukan keadaan yang dibutuhkan untuk perbaikan dan pemulihan.
        Apabila jaringan cedera misalnya karena terbakar, teriris atau karena infeksi kuman, maka pada jaringan ini akan terjadi rangkaian reaksi yang memusnahkan agen yang membahayakan jaringan atau yang mencegah agen menyebar lebih luas. Reaksi-reaksi ini kemudian juga menyebabkan jaringan yang cedera diperbaiki atau diganti dengan jaringan baru. Rangkaian reaksi ini disebut inflamasi (Rukmono, 1973).
Inflamasi atau inflamasi adalah satu dari respon utama sistem kekebalan terhadap infeksi dan iritasi. Inflamasi distimulasi oleh faktor kimia (histamin, bradikinin, serotonin, leukotrien, dan prostaglandin) yang dilepaskan oleh sel yang berperan sebagai mediator inflamasi di dalam sistem kekebalan untuk melindungi jaringan sekitar dari penyebaran infeksi.
Inflamasi mempunyai tiga peran penting dalam perlawanan terhadap infeksi:
  1. Memungkinkan penambahan molekul dan sel efektor ke lokasi infeksi untuk meningkatkan performa makrofaga
  2. Menyediakan rintangan untuk mencegah penyebaran infeksi
  3. Mencetuskan proses perbaikan untuk jaringan yang rusak.
Inflamasi adalah respons protektif untuk menghilangkan penyebab jejas (cell injury), dengan mengencerkan, menghancurkan atau menetralkan agen berbahaya, serta membuang penyebab awal jejas sehingga proses penyembuhan dapat dilaksanakan. Inflamasi merupakan sebuah proses kompleks yang meliputi kerjasama banyak “Pemain”. “Pemain” yang berkontribusi ini adalah sel dan protein dan sel plasma dalam sirkulasi, sel endotel pembuluh darah dan sel serta matriks ekstraseluler jaringan ikat. Sel dalam sirkulasi meliputi leukosit (neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, monosit) dan trombosit; protein dalam sirkulasi meliputi faktor pembekuan, kininogen dan komponen komplemen; sel endotel sendiri, sel jaringan ikat meliputi sel mast, makrofag, limfosit dan fobroblas; dan yang terakhir Extraceluler matrix (ECM) meliputi kolagen dan elastin  susun fibrosa, proteoglikan  bentuk gel, glikoprotein adhesif (fibronektin) sebagai struktur penyambung antar ECM.

Jika ingin materi Imunodevisiensi klik Disini

B. Etiologi
Etiologi inflamasi menurut (Menurut Robbins dkk, 1995)
1. infeksi mikroba
2. materi fisik
3. materi kimia
4. jaringan nekrotik
5. reaksi imunologis

Tujuan positif inflamasi
1. Untuk menahan dan memn misahkan kerusakan sel
2. Menghancurkan mikroorganisme
3. Menginaktifkan toksin
4. Mempersiapkan perbaikan jaringan

Negatif
1. Menyebabkan reaksi hipersensitifitas
2. Mengancam jiwa
3. Menyebabkan kerusakan organ progresif
4. Pembentukan jaringan parut

C. Patofisiologi terjadinya Inflamasi
INFLAMASI AKUT
Inflamasi akut akan terjadi secara cepat (menit —hari) dengan ciri khas utama eksudasi cairan, akumulasi neutrofil memiliki tanda-tanda umum berupa rubor (redness), calor (heat), tumor (swelling), Dolor (pain), Functio laesa (lose of function).
Terjadi karena tujuan utama : mengirim leukosit ke tempat jejas bersihkan setiap mikroba. Dengan dua proses utama, perubahan vaskular (vasodilatasi, peningkatan permeabilitas) dan perubahan selular (rekrutmen dan aktivasi selular). Perubahan makroskopik yang dapat diamati berupa hiperemia yang memberikan penampakan eritema, exudation yang memberikan penampakan edema, dan emigrasi leukosit.
1. Hyperaemia
Fase Inflamasi , berlangsung selama 1 sampai 4 hari.Jejas yang terbentuk pertama-tama akan menyebabkan dilatasi arteri lokal (didahului vasokonstriksi sesaat). Dengan demikian mikrovaskular pada lokasi jejas melebar, aliran darah mengalami perlambatan, dan terjadi bendungan darah yang berisi eritrosit pada bagian tersebut, yang disebut hiperemia seperti terlihat pada Gambar 1. Pelebaran ini lah yang menyebabkan timbulnya warna merah (eritema) dan hangat. Perlambatan dan bendungan ini terlihat setelah 10-30 menit

Hyperaemia di dalam inflamasi berhubungan dengan perubahan mikrovaskular, yang disebut Lewis’ triple response – berupa “a FLUSH, a FLARE and a WEAL”. The FLUSH ditandai dengan garis putih (dikarenakan adanya vasokonstriksi). The FLUSH merupakan garis merah (dikarenakan dilatasi kapiler). The FLARE merupakan daerah dengan warna merah yang lebih terang di sekitarnya (dikarenakan dilatasi arteri). 1

2. Exudating
Selanjutnya, terjadi peningkatan permeabilitas endotel disertai keluarnya protein plasma dan sel-sel leukosit ke daerah extravaskular yang disebut eksudasi. Hal ini menyebabkan sel darah merah dalam darah terkonsentrasi, viskositas >>, sirkulasi <<, terutama pada pembuluh darah-pembuluh darah kecil yang sisebut stasis.
Pada ujung arteriol kapiler, tekanan hidrostatik yang tinggi mendesak cairan keluar ke dalam ruang jaringan interstisial dengan cara ultrafiltrasi. Hal ini berakibat meningkatnya konsentrasi protein plasma dan menyebabkan tekanan osmotik koloid bertambah besar, dengan menarik kembali cairan pada pangkal kapiler venula. Pertukaran normal tersebut akan menyisakan sedikit cairan dalam jaringan interstisial yang mengalir dari ruang jaringan melalui saluran limfatik. Umumnya, dinding kapiler dapat dilalui air, garam, dan larutan sampai berat jenis 10.000 dalton
Eksudat adalah cairan radang ekstravaskuler dengan berat jenis tinggi (di atas 1.020) dan seringkali mengandung protein 2-4 mg% serta sel-sel darah putih yang melakukan emigrasi. Cairan ini tertimbun sebagai akibat peningkatan permeabilitas vaskuler (yang memungkinkan protein plasma dengan molekul besar dapat terlepas), bertambahnya tekanan hidrostatik intravaskular sebagai akibat aliran darah lokal yang meningkat pula dan serentetan peristiwa rumit leukosit yang menyebabkan emigrasinya

Exudasi dapat menjelaskan The WEAL dalam Lewis’ triple response.
a. Dengan peningkatan jumlah cairan dalam jaringan interstitial  pengenceran racun
b. Dengan peningkatan jumlah protein
1) globulin  memproteksi antibodi
2) Deposit fibrin  membatasi penyebaran bakteri dan Berperan dalam proses penyembuhan luka

Mekanisme :
1. Protein passage
Sinyal kimiawi merangsang kontraksi endotelial  membentuk formasi bercelah untuk meningkatkan permeabilitas antar endothelial.

2. Fluid movement
Proses fluid movement

3. Emigration of leucocyte
Penimbunan sel-sel darah putih, terutama neutrofil dan monosit pada lokasi jejas, merupakan aspek terpenting reaksi radang. Sel-sel darah putih mampu memfagosit bahan yang bersifat asing, termasuk bakteri dan debris sel-sel nekrosis, dan enzim lisosom yang terdapat di dalamnya membantu pertahanan tubuh dengan beberapa cara. Beberapa produk sel darah putih merupakan penggerak reaksi radang, dan pada hal-hal tertentu menimbulkan kerusakan jaringan yang berarti. Baik neutrofil, maupun sel berinti tunggal dapat melewati celah antar sel endhotelial dengan menggunakan pergerakan amoeboid menuju jaringan target.
Dalam fokus radang, awal bendungan sirkulasi mikro akan menyebabkan sel-sel darah merah menggumpal dan membentuk agregat-agregat yang lebih besar daripada leukosit sendiri. Menurut hukum fisika aliran, massa sel darah merah akan terdapat di bagian tengah dalam aliran aksial, dan sel-sel darah putih pindah ke bagian tepi (marginasi). Mula-mula sel darah putih bergerak dan menggulung pelan-pelan sepanjang permukaan endotel pada aliran yang tersendat tetapi kemudian sel-sel tersebut akan melekat dan melapisi permukaan endotel. 3

Proses emigrasi Leukosit
Emigrasi adalah proses perpindahan sel darah putih yang bergerak keluar dari pembuluh darah. Tempat utama emigrasi leukosit adalah pertemuan antar-sel endotel. Walaupun pelebaran pertemuan antar-sel memudahkan emigrasi leukosit, tetapi leukosit mampu menyusup sendiri melalui pertemuan antar-sel endotel yang tampak tertutup tanpa perubahan nyata

4. Kemotaksis
Setelah meninggalkan pembuluh darah, leukosit bergerak menuju ke arah utama lokasi jejas. Migrasi sel darah putih yang terarah ini disebabkan oleh pengaruh-pengaruh kimia yang dapat berdifusi disebut kemotaksis. Hampir semua jenis sel darah putih dipengaruhi oleh faktor-faktor kemotaksis dalam derajat yang berbeda-beda. Neutrofil dan monosit paling reaktif terhadap rangsang kemotaksis. Sebaliknya limfosit bereaksi lemah. Beberapa faktor kemotaksis dapat mempengaruhi neutrofil maupun monosit, yang lainnya bekerja secara selektif terhadap beberapa jenis sel darah putih. Faktor-faktor kemotaksis dapat endogen berasal dari protein plasma atau eksogen, misalnya produk bakteri berupa protein maupun polipeptida

Mekanisme kemotaksis
Beberapa agen kemotaksis penting:
• Fraksi sistem KOMPLEMEN (terutama C5a)
• Faktor derivat asan arakidonat yang diproduksi neutrophils – LEUKOTRIENS
• Faktor derivat BAKTERI patogen
• Faktor derivat limfosit khusus – LIMFOKIN


Proses tersebut menjelaskan pergerakan leukosit dan agregatnya secara besar-besaran dan terprogram dalam proses inflamasi

5. Fagositosis
Setelah leukosit sampai di lokasi radang, terjadilah proses fagositosis. Meskipun sel-sel fagosit dapat melekat pada partikel dan bakteri tanpa didahului oleh suatu proses pengenalan yang khas, tetapi fagositosis akan sangat ditunjang apabila mikroorganisme diliputi oleh opsonin, yang terdapat dalam serum (misalnya IgG, C3). Setelah bakteri yang mengalami opsonisasi melekat pada permukaan, selanjutnya sel fagosit sebagian besar akan meliputi partikel, berdampak pada pembentukan kantung yang dalam. Partikel ini terletak pada vesikel sitoplasma yang masih terikat pada selaput sel, disebut fagosom. Meskipun pada waktu pembentukan fagosom, sebelum menutup lengkap, granula-granula sitoplasma neutrofil menyatu dengan fagosom dan melepaskan isinya ke dalamnya, suatu proses yang disebut degranulasi. Sebagian besar mikroorganisme yang telah mengalami pelahapan mudah dihancurkan oleh fagosit yang berakibat pada kematian mikroorganisme. Walaupun beberapa organisme yang virulen dapat menghancurkan leukosit.

Proses Fagositosis
Fagositosis merupakan sebuah proses yang efisien, yaitu:
1. OPSONIN – merupakan antibodi natural maupun antibodi spesifik
2. Fraksinasi sistem KOMPLEMEN
3. Nerupakan tahap FISIS dari lingkungan sosial
Aktivitas opsonik dipengaruhi oleh ke-solid-an, dan ke-rigid-an organ maupun medium tempatnya berada. Dimana kondisi loose dan lebih cair, aktivitasnya terhenti.

Sel-sel yang berperan dalam inflamasi akut
1. Neutrofil
(hidup dalam 1-3 hari)

Neutrofil, bekerja saat inflamasi
2. Makrofag
(hidup dalam beberapa bulan hingga beberapa tahun)
a. Berhasil membunuh, misi terselesaikan.
b. Gagal membunuh dan dapat membuat bakteri dapat menyebar dalam saluran getah bening ke beberapa organ lain. (menjelaskan peristiwa penyebaran TB dalam tubuh)
c. Seluruh debris (meliputi sel PMN) yang telah diserna oleh makrofag akan dibuang secara bertahap dari tempat terjadinya inflamasi
d. Antigen bakteri telah siap untuk di presentasikan ke dalam sistem imun.

Peranan Agen kimia pada inflamasi
Terdapat beberapa substansi yang terlibat dalam proses inflamasi, yang terkadang memiliki beberapa fungsi yang overlapping, baru terdapat beberapa yang berhasil diidentifikasi. Mekanisme regularisasi dapat mencegah proses inflamasi yang tak terkontrol.

Beberapa agen yang berkaitan dengan dilatasi vaskular dan dapat meningkatkan permeabilitas :
1. Vaso-active AMINES – muncul pada masa-masa awal, dan berlangsung sesaat.

Kerja histamin dan serotonin sebagai vaso-active amine pada inflamasi
2. Vaso-active POLYPEPTIDES yang dibentuk enzim spesifik (breakdown produk berupa protein dan jaringan)
Kerja vaso-active polipeptida pada inflamasi

3. MISCELLANEOUS AGENTS mempengaruhi proses inflamasi, meliputi:
a. Toksik bakteri
b. Faktor komplemen C3a dan C5a
c. Prostalglandins
d. Leukotriens (leukosit)
e. Enzim lisosomal (leukosit)
f. Interleukin (makrofaga)
g. Faktor permeabilitas globukin
h. Faktor permeabilitas kelenjar getah bening
i. Breakdown produk DNA dan RNA
j. Kompleks antigen-antibodi
k. TNF (Tumor Necrosis Factor)
l. Nitric oksida (oleh sel endotelial)

Macam-macam agen infeksi
INFLAMASI KRONIS
Inflamasi kronis dianggap perasangan berkepanjangan di mana peradangan aktif, kerusakan jaringan, dan usaha-usaha perbaikan yang berjalan secara bersamaan. Peradangan kronis terjadi biasanya sebagai kelanjutan radang akut, infeksi persisten oleh mikroorganisme tertentu, seperti basil tuberkel, treponema pallidum, beberapa virus dan jamur, dan parasit, terpapat toksik dalam waktu berkepanjangan (endogen maupun eksogen), dan jika terjadi autoimun, tubuh dikenali sebagai benda asing, sehingga seakan-akan terdapat benda asing dalam tubbuh secara terus menerus.

1. Ciri-ciri
Inflamasi kronik memiliki beberapa perbedaan dengan peradangan akut, yang dimanifestasikan oleh peribahan vaskular, edema, dan infiltrasi neutrofil, peradangan kronis dicirikan oleh:
a. Infiltrasi sel mononuklear, meliputi makrofag, limfosit, dan sel plasma
b. Kehancuran jaringan, yang disebabkan oleh agen yang terus menerus mengganggu atau oleh sel-sel inflamasi
c. Usaha-usaha penyembuhan oleh jaringan penghubung penggantian jaringan yang rusak, dilakukan dengan poliferasi pembuluh darah kecil (angiogenesis), dan khususnya, fibrosis

2. Peradangan granulomatosa
Peradangan granulomatosa adalah pola khas reaksi peradangan kronis yang ditandai dengan akumulasi makrofag teraktivasi, yang sering mengembang seperti epitel (epiteloid). Tuberkulosis adalah contoh penyakit granulomtosa
Sebuah granulomatosa adalah dokus peradangan kronis yang terdiri dari agregasi makrofag mikroskopis yang berubah menjadi sel-sel epitel seperti dikelilingi oleh keling leuokit mononuklear, terutama limfosit dan kadang-kadang sel plasma. Dalam pewarnaan HE, sel epiteloid akan terlihat pink pucat, sitoplasma granular dengan batas sel tidak jelas, sering muncul untuk bergabung ke dalam satu sama lain. Intinya tidak sepadat limfosit, berbentuk oval atau memanjang, dan dapat menununjukkan lipat dari membran nuklir. Granulomas dewasa akan mengembangkan tepi dilampiri fobroblas dan jaringan ikat. Sel ephiteloid sering bergabung untuk membentuk sel raksasa di pinggiran atau kadang-kadang di tengan granulomas. Sel raksasa ini dapat mencapai diameter 40-50 mikrometer, Mereka memiliki massa besar sitoplasma yang mengandung 20 atau lebih dan dapat menjadi langerhans-tipe sel raksasa atau yang lain
Ada 2 jenid granulomatosa, yang berbeda dalam patogenesisnya. Granulomas benda asing yang terisi benda asing di dalamnya, Biasanya benda asing terbentuk ketika bahan granulomas seperti bedak (berkaitan dengan penyalahgunaan obat intravenas), jahitan, atau serat lainnya yang cukup besar untuk menghalangi fagositosis oleh satu makrofah dan tidak menghasut peradangan atau respon kekebalan tubuh tertentu, Sel epitheloid dan membentuk sel raksasa dan muncul ke permukaan untuk membungkus benda asing, Bahan asing biasanya dapat diidentifikasi do tengah Granuloma, terutama jika dilihat dengan cahaya terpolarisasi, di mana tampaknya refractile.

Inflamasi / RadangSel-sel yang berperan
1. Makrofag
Merupakan monosit yang lama hidupnya kurang lebih 1 hari, akan pergi ke daerah peradangan dikarenakan molekul adhesi dan faktor kemoatraktan dalam jaringan, monosit akan berubah menjadi makrofag yang jika bersatu membentuk endotelium. Sinyal-sinual yang berpengaruk saat pengaktifan makrofag adalah IFM-y . sitokin, endotoksin, mediator lain yang diprosuksi saat terjasi radang akut, dan matrix extraceluler, seperti fibronectin.
Makrofag aktif mampu mengaktifkan zat-zat yang membuat suatu jaringan menjadi nekrosis atau fibrosis. Contohnya adalah asam dan basa protease, komponen komplemen dan faktor-faktor pembekuan, oksigen reaktif NO, metabolit asam arakhidonat, sitokin IL-1, TNF san berbagai growth factor
2. Limfosit
Limfosit sikerahkan di kedua reaksi imun humoral dan seluler dan bahkan dalam peradangan non imun. Antigen distimulasi (efektor dan memori) dan berbagai jenis limfosit (T, B) menggunakan berbagai molekul adhesi pasangan (terutama yang integrins dan ligan) dan kemokin untuk bermigrasi ke situs peradangan. Sitokin dari makrofag diaktifkan, terutama TNF, IL-1, da kemokin. Sel ini mempersiapkan proses peradangan
Limfosit dan makrofag berinteraksi dakan cara dua arah, dan reaksi-reaksi ini memainkan peran penting dalam peradangan kronis. Limfosit T aktif akan mengaktifkan makrofag serta mengeluarkan mediator radang untuk mempengaruhi sel lain, saat makrofag aktif, dia akan mengaktifkan limfosit T dan tak lupa mengeluarkan mediator radang untuk mempengaruhi sel disekitarnya.

3. Eusinofil
Eusinofil berlimpah dalam reaksi kekebalan yang diperantarai oleh IgE dan infeksi parasit. Salah satu kemokin yang terutama penting bagi perekrutan eusinofil adalah eotaxin, Eusinofil memiliki granula yang mengandung protein dasar utama, yang sangat kationik protein yang beracun bagi parasit tetapi juga menyebabkan lisis sel epitel mamalis. Itulah sebabnya ia sangat berperan dalam memerangi infeksi parasit tetapi juga berkontribusi pada kerusakan jaringan dalam reaksi kekebalan.

4. Sel Mast
Sel ini didistribusikan secara luas di jaringan ikat dan berpartisipasi dalam reaksi peradangan akut dan kronis. Pada reaksi akut, antibodi IgE yang terikat pada Fc reseptor khusus mengenali antigen, dan sel-sel degranulate dan melepaskan mediator seperti histamin dan produksi oksidasi AA, Jenis respon terjadi selama reaksi anafilaksis makanan, racun serangga atau obat-obatanm sering dengan hasil becana. Bila diatur dengan benar, respon ini dapat bermanfaat bagi tuan rumah. Sel mast juga hadir dalam reaksi peradangan kronis, dan mungkin menghasilkan sitokin yang berkontribusi terhadap fibrosis.

D. Mediator Peradangan
Mediator adalah caraka atau signal kimia. Mediator dalam inflamasi/radang berperan sangat penting karena merupakan komponen utama dalam komunikasi sel, amplifikasi inflamasi, ataupun opsonin, yang ketiganya berguna dalam memfasilitasi eliminasi agen penyebab radang dan juga perbaikan jaringan.
Beberapa hal yang perlu diketahui dari mediator adalah sebagai berikut :
1. Mediator dapat berasal dari sel maupun cairan plasma (plasma protein)
2. Mediator dari sel biasanya diisolasi dengan membentuk granula dalam sel, sedangkan mediator pada plasma dihasilkan sebagian besar oleh hati dan berada dalam keadaan non-aktif dalam cairan darah sehingga membutuhkan mekanisme aktivasi tertentu.
3. Mediator aktif diproduksi sebagai respon terhadap berbagai macam rangsangan, termasuk radang
4. Rangsangan yang dimaksud di sini adalah produk mikroba, substansi dari jaringan yang nekrosis, dan protein-protein seperti kompelemen, kinin, sistem koagulasi, yang dengan sendirinya diaktivasi oleh mikroba dan jaringan yang terluka. Mekanisme ini dapat diartikan sebagai “diaktivasi jika diperlukan, diproduksi jika dibutuhkan”.
5. Mediator yang satu dapat merangsang dikeluarkannya mediator yang lain
6. Misalnya, mediator TNF dan IL-1 dapat menstimulasi dikeluarkannnya protein selektin oleh sel endotel.
7. Mediator bervariasi dalam efek dan jenis sel tempat ia bekerja
8. Kebanyakan mediator (terutama yang bersifat hidrofilik) hanya memiliki waktu hidup yang pendek karena harus segera didegradasi agar tidak menimbulkan respon yang berlebihan.

Terdapat dua macam mediator yang dibagi berdasarkan tempat ia berasal, yaitu mediator yang berasal dari sel (cell-derived mediators) dan mediator yang murni dari plasma darah (plasma-derived mediators). Berikut ini, yang akan dibahas secara mendalam adalah mediator yang berasal dari sel. Mediator selular dapat dibagi menjadi beberapa macam, sebagai berikut:

1. Amina Vasoaktif: Histamin dan Serotonin
Amina vasoaktif maksudnya adalah berbagai macam mediator kimia yang merupakan turunan dari amina, yang dapat bekerja langsung pada sistem vaskular. Histamin paling banyak dihasilkan oleh sel mast yang biasanya terdistribusi dengan normal pada jaringan ikat longgar sebagai sel tetap (fixed cell).
         Sel Mast dan Mekanisme pengeluaran mediator kimia yang terkandung di dalamnya
Pada gambar bagan di atas, dapat terlihat bahwa sel mast mengeluarkan histamin sebagai mediator kimia, yaitu Histamin, salah satu mediator yang paling umum diproduksi dan berguna untuk vasodilatasi dan meningkatkan permeabilitas vaskular. Selain itu, histamin juga menyebabkan bronkofasme pada asma dan meningkatkan produksi mukus pada saluran pernafasan. Histamin akan berikatan ada reseptor H1 pada sel endotel. 
Pengeluaran histamin selain disebabkan oleh pengikatan antigen dengan reseptor Fc, juga dapat disebabkan oleh 
(1) trauma, 
(2) histamine releasing hormone yang berasal dari leukosit,
 (3) neuropeptida (misalnya substansi P), dan
 (4) sitokin tertentu.Serotonin
 (5-hidroksitriptamin) juga merupakan mediator kimia yang sefungsi dengan histamin, namun tempat asalnya berada di keping darah (platelet) dan beberapa sel pensekresi neuroendokrin. Serotonin akan dilepaskan ketika terjadi reaksi koagulasi (pembekuan darah), di mana keping darah akan beragregasi setelah bersentuhan langsung dengan kolagen, thrombin, ADP, dan komplek antigen-antibodi. Ini merupakan salah satu hubungan antara pembekuan dan peradangan.

2. Metabolit Asam Arakidonat (AA): Prostaglandin, Leukotrien, dan Lipoksin
AA merupakan salah satu turunan asam lemah yang terdiri atas 20 atom C (Karbon) yang diperoleh dari asupan makanan ataupun konversi dari asam lenoleat. AA juga disebut sebagai eicosanoid, dan perolehan dari bahan kimia ini tidak terdapat secara bebas pada sel-sel, namun diperlukan mekanisme tertentu untuk menghasilkannya, yaitu dengan pencernaan membran lipid sel oleh enzim phospolipase A2. Senyawa eikosanoid berikatan dengan reseptor terkait protein G pada sel-sel target untuk menghasilkan suatu respon.


Proses metabolisme yang menghasilkan AA dan turunannya
Sebagai tambahan untuk keterangan gambar di atas, Prostaglandin (dan turunannya) terlibat dalam pemicuan timbulnya rasa sakit dan demam. Prostaglandin diproduksi oleh sel mast dan mekanisme produksinya mulai dari pencernaan lipid membran sampai kepada produksi asam arakidonat dapat dilihat pada gambar 2.3 sebelumnya.

3. Platelet-Activating Factor (PAF)
Merupakan salah satu bentuk mediator yang adalah turunan dari fosfolipid. Diberi nama PAF karena mediator ini dapat menyebabkan agregasi dari keping-keping darah, namun sekarang ini ditemukan pula efek dari mediator ini yang dapat memicu terjadinya inflamasi. Dalam kontraksi yang relatif tinggi, PAF berlaku sebagai vasokonstriktor dan bronkokonstriktor, namun dalam konsentrasi yang ekstrem kecil, PAF berefek 100 – 10000 kali lebih besar dibanding histamin dalam bertindak sebagai vasodilator dan meningkatkan permeabilitas vaskular. Selain itu, PAF juga berperan dalam adhesi leukosit ke endotel, kemotaksis, degranulasi, dan peristiwa ledakan oksigen, serta stimulasi produksi berbagai macam mediator lainnya, terutama eikosanoid.

4. Reactive Oxygen Species (ROS)
ROS, meskipun terlibat dalam pencernaan mikroba dan eliminasi agen radang, juga dapat dilepaskan ke lingkungan ekstraselular akibat terjadinya frustated-leukocyte. Apabila dikeluarkan dalam konsentrasi kecil, ROS dapat merangsang pengeluaran kemokin, sitokin, dan molekul adhesi endotel yang lebih banyak, sehingga mengamplifikasi respon inflamasi. Namun, tetap saja ROS dapat menyebabkan kerusakan pada sel dan jaringan yang sehat dalam tubuh, misalnya kerusakan pada sel endotel dan sel-sel lain, serta inaktivasi antiprotease, seperti α-antitripsin. Untuk itu, dalam plasma darah, terdapat banyak zat antioksidan, misalnya enzim katalase, glutationin, SOD, ceruloplasmin, dan transferin.

5. Nitrogen Oksida (NO)
NO berperan dalam merelaksasi otot polos vaskular dan mempromosikan terjadinya vasodilatasi. Namun, pada beberpa keadaan, NO dapat menghambat reaksi inflamasi, misalnya menghambat agregasi keping darah, inflamasi dengan pemicu sel mast, dan rekruitment dari leukosit ke daerah inflamasi. Dengan demikian, NO dapat dikatakan sebagai faktor regulator endogenous dari respon inflamasi.
Kerja NO pada otot polos vaskuler dan makrofag

6. Sitokin dan Kemokin
a. Sitokin
Sitokin yang paling banyak berperan dalam inflamasi akut adalah TNF (α,β,γ) ataupun Interleukin (IL, dari 1 – 20), selain itu terdapat pula Interferon/IFN (α,β,γ). Perhatikan gambar di bawah ini untuk memperoleh gambaran dari cara kerja TNF dan IL (dalam hal ini IL-1 yang berperan dalam inflamasi akut pada masa awal).
Produksi dari sitokin IL-1 diatur oleh kompleks protein multipel yang disebut sebagai inflammasome yang merespon stimuli dari mikroba dan sel-sel atau jaringan yang mati. Komplek protein ini tergolong dalam protein apoptotik caspase yang berfungsi mengaktifkan prekursor dari IL-1 menjadi sitokin yang aktif. Mutasi dari gen-gen yang mengkode protein ini akan menyebabkan penyakit demam Mediterania.
Kerja TNF/IL-1 pada berbagai macam sel dan efek yang dihasilkannya

b. Kemokin
Merupakan protein yang bersifat terutama sebagai kemoatraktan untuk leukosit. Terdapat 40 jenis kemokin di dalam tubuh, namun baru 20 yang baru teridentifikasi sampai saat ini. Namun, secara umum, berdasarkan struktur yang dibentuknya, kemokin dapat digolongkan menjadi 4 kelas, antara lain:
1. Kelas C-X-C (α-kemokin) dengan 2 gugus sistein di antara asma amino, misalnya IL-8.
2. Kelas C-C (β-kemokin) mencakup protein kemoatraktan untuk monosit (MCP-1), eotaksin untuk eosinofil, protein inflamasi makrofage (MIP-1 α), dan RANTES (Regulated and Normal T-Cell Expressed and Secreted). Tidak bekerja pada neutrofil. 

3. Kelas C yang bersifat spesifik untuk limfosit
4. Kelas CX3C, yang hanya meliputi fraktalkin, terdapat dalam dua bentuk yaitu (1) terikat membran plasma dan (2) turunan dari proteolisis protein terikat membran. 

7. Kandungan Lisosomal dari Leukosit
Kandungan lisosomal dari leukosit yang terdapat dalam granulanya apabila dilepaskan akan dapat memicu terjadinya respon inflamasi. Misalnya pada neutrofil terdapat enzim kolagenase pada granula kecil, sedangkan pada granula besar (bersifat azurofil) terdapat neutral protease. Keseimbangan akan aktivitas dari enzim-enzim berbahaya ini dikontrol oleh antiprotease.

8. Neuropeptida
Disekresikan oleh sel-sel neuron (pada sensorik dan beberapa leukosit tertentu) yang berperand dalam amplifikasi dari respon inflamasi, misalnya substansi P dan neurokinin-A. Susbtansi P dapat menyebabkan terjadinya rasa peruh, pengaturan tekanan darah, stimulasi sel endokrin, dan peningkatan permeablitas membran.

E. Tanda-tanda inflamasi (makroskopis)
   Secara garis besar, inflamasi ditandai dengan vasodilatasi pembuluh darah lokal yang mengakibatkan terjadinya aliran darah setempat yang berlebihan, kenaikan permeabilitas kapiler disertai dengan kebocoran cairan dalam jumlah besar ke dalam ruang interstisial, pembekuan cairan dalam ruang interstisial yang disebabkan oleh fibrinogen dan protein lainnya yang bocor dari kapiler dalam jumlah berlebihan, migrasi sejumlah besar granulosit dan monosit ke dalam jaringan, dan pembengkakan sel jaringan.
     `Beberapa produk jaringan yang menimbulkan reaksi ini adalah histamin, bradikinin, serotonin, prostaglandin, beberapa macam produk reaksi sistem komplemen, produk reaksi sistem pembekuan darah, dan berbagai substansi hormonal yang disebut limfokin yang dilepaskan oleh sel T yang tersensitisasi (Guyton & Hall, 1997).
Tanda-tanda inflamasi mencakup rubor (kemerahan), kalor (panas), dolor (rasa sakit), dan tumor (pembengkakan). Tanda pokok yang kelima ditambahkan pada abad terakhir yaitu functio laesa (perubahan fungsi) (Abrams, 1995; Rukmono, 1973; Mitchell & Cotran, 2003).
1. Rubor atau kemerahan
Merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang mengalami inflamasi. Saat reaksi inflamasi timbul, terjadi pelebaran arteriola yang mensuplai darah ke daerah inflamasi. Sehingga lebih banyak darah mengalir ke mikrosirkulasi lokal dan kapiler meregang dengan cepat terisi penuh dengan darah. Keadaan ini disebut hiperemia atau kongesti, menyebabkan warna merah lokal karena inflamasi akut (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).

2. Kalor atau rasa panas
Terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi inflamasi akut. Kalor disebabkan pula oleh sirkulasi darah yang meningkat. Sebab darah yang memiliki suhu 37oC disalurkan ke permukaan tubuh yang mengalami inflamasi lebih banyak daripada ke daerah normal (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).

3. Rasa Sakit (Dolor)
Rasa sakit terjadi karena adanya ransangan saraf. Rangsangan saraf sendiri sapat terjadi akibat perubahan pH lokal, perubahan konsentrasi ion-ion tertentu, atau pengeluaran zat-zat kimia bioaktif lainnya. Selain itu, pembengkakan jaringan yang mengakibatkan peningkatan tekanan lokal juga dapat menimbulkan rasa sakit.

4. Pembengkakan (Tumor)
Pembengkakan ditimbulkan oleh pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial. Campuran cairan dan sel yang tertimbun didaerah inflamasi disebut dengan eksudat.

5. Fungsio Lasea
Perubahan fungsi atau fungsio lasea adalah reaksi reaksi inflamasi yang telah dikenal. Sepintas mudah dimengerti, mengapa bagian yang bengkak, nyeri yang disertai sirkulasi abnormal dari lingkungan kimiawi yang abnormal, berfungsi abnormal. Namun sebetulnya tidak diketahui secara mendalam dengan cara apa fungsi jaringan meinflamasi terganggu.

F. Jenis-jenis inflamasi
1. Inflamasi Kataral
Terbentuk diatas permukaan mukosa, dimana terdapat sel-sel yang mensekresikan musin. Eksudat musin yang terkenal adalah ‘Puck’ yang banyak menyertai infeksi pernafasan bagian atas.

2. Inflamasi Pseudomembran
Istilah ini dipakai untuk reaksi inflamasi pada permukaan selaput lendir, ditandai dengan pembentukan eksudat berupa lapisan selaput superficial, mengandung agen penyebab, endapan fibrin, sel-sel nekrotik aktif, dan sel-sel darah putih inflamasi. Inflamasi membranosa sering ditemui dalam orofaring, trachea, bronkus, dan traktus intestinal.

3. Ulkus
Terjadi bila bagian permukaan jaringan hilang. Sementara jaringan sekitarnya meinflamasi, contohnya sariawan.

4. Abses
Abses adalah lubang yang berisi nanah dalam jaringan.

5. Inflamasi Purulen
Inflamasi purulen terjadi akibat infeksi bakteri. Terjadi pada cedera aseptis dan dapat terjadi dimana-mana pada tubuh yang jaringanya telah nekrotik.

6. Flegmon
Inflamasi purulen yang meluas secara difuse pada jaringan
7. Inflamasi Supuratif
Inflamasi supuratif adalah inflamasi yang menimbulkan nekrosis luquaktif. Nekrosis luquaktif adalah jaringan nekrosis yang sedikit demi sedikit mencair akibat enzim. Infeksi supuratif lokal disebabkan oleh banyak macam bakteri yang secara kolektif diberi nama piogen (Pembentukan nanah). Perbedaan penting antara inflamasi supuratif dan inflamasi purulen bahwa pada inflamasi spuratif terjadi nekrosis luquaktif pada jaringan dasar.

G. Reaksi Sistemik Pada Peradangan
1. Demam
Demam terjadi akibat pelepasan zat pirogen endogen berasa l dari netrofil dan makrofag. Selanjutnyaa zat tersebut

2. Perubahan Hematologis
Peradangan dapa mempengaruhi mempengaruhi maturasi dan pengelaran leukosit dari sum-sum tulang yang mengakibatkan kenaikan jumlah lekosit, yang disebut dengan leukositosis. Perubahan protein tertentu juga terjadi bersamaan dengan perubahan Laju Endap Darah (KED).

3. Gejala Konstitusional (Gejala Tidak Sehat Secara Umum)
Pada cedera hebat terjadi perubahan metabolisme dan endokrin sehingga reaksi peradangan lokal sering diiringi gejala konstisusional berupa malaise (Lemah/lesu), anorexia (tidak nafsu makan), tidak mampu melakukan pekerjaan yang berat, sampai tidak dapat melakukan apapun.


PENUTUP

B. Kesimpulan
Inflamasi merupakan respons protektif sebagai media pertahanan tubuh terhadap jejas. Inflamasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu inflamasi akut dan kronis. Inflamasi akut sifatnya singkat, hanya berkisar beberapa menit hingga beberapa hari, memberikan tanda-tanda umum berupa rubor (redness), calor (heat), tumor (swelling), Dolor (pain), Functio laesa (lose of function). Perubahan yang terjadi meliputi hyperemia, exudating, emigrasi leukosit, kemotaksis dan fagositosis. Pada inflamasi akut, sel-sel radang yang berperan hanya neutrofil dan makrofag yang sifatnya tidak spesifik pada proses fagositosis.
Inflamasi kronis terjadi dalam kurun waktu berkepanjangan, berkisar dari dua minggu hingga beberapa tahun, terjadi sebagai sebagai kelanjutan radang akut, infeksi persisten oleh berbagai mikroorganisme, terpapar toksik terus menerus dan gangguan autoimun. Pada inflamasi kronik, telah ditemukan adanya angiogenesis, peradangan granulomatosa (terdiri dari akumulasi makrofag yang telah berdiferensiasi menjadi epiteloid, keling limfosit, fibroblas dan jaringan ikat yang dibentuknya), juga ditemukan sel-sel radang menahun, seperti limfosit, eusinofil dan sel Mast.

0 comments:

  • Total Pageviews

    Ns.Tursino.Skep. Powered by Blogger.
  • Contact Form

    Name

    Email *

    Message *